Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Esai. Tampilkan semua postingan

03 April 2008

Pohon Sidrah Raksasa

Oleh: Hadi Al Sumatrany

“Telah jelas kerusakan di darat dan dilaut karena ulah tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar)”,(QS. Ar-Rum:41).

Perlu diingat bahwa sebelum manusia dibuang ke bumi, hutan di bumi sudah dulu ada. Hutan sudah terhias dengan pohon dan binatang lain sebelum manusia ada di bumi. Maka, kewajiban manusia untuk melindungi bumi hutan dan keberadaan makhluk lain. Manusia perlu sadar karena alam telah ikut membantu kehidupannya.

Dalam misi manusia dikirim ke bumi pun sudah jelas agar mengabdi kepada Tuhan dan ikut memelihara bumi yang didalamnya terdampar hutan yang luas dan tidak melakukan pencemaran lingkungan. Tuhan menciptakan hutan bukan hanya sekedar untuk memperindah bumi tapi juga untuk membuat bumi subur dan iklim terjaga. Karena hutan menjadi sumber kehidupan bagi manuisa.

Ketika hutan menjadi sasaran kerakusan, balasannya adalah kerusakan bagi makhluk lain yang selama ini kebagian rumah untuk menghuni hutan. Hutan menjadi rumah binatang untuk bermain sesama dan melanjutkan kehidupannya. Dalam kehidupan binatang, hutan adalah surga melangsungkan masa depan.

Apa jadinya bila kita datang dengan truk besi besar dan bermacam-macam gergaji. Bagaimana nasib binatang di hutan yang kita rusak rumahnya, kita rusak sumber-sumber makanannya. Kita pisahkan mereka yang sedang bercinta, berkeluarga, menyusui anaknya. Bagaimana nasib mereka yang punya tempat tinggal aman dan berkelompok. Tapi hilang dan berantakan oleh irisan gergaji-gergasi orang-orang rakus.

Pernahkah kita berfikir terbalik, seandainya rumah kita dirusak orang lain. Desa kita dirusak oleh orang lain, kota kita dihancurkan dengan bom. Orang yang kita cintai hilang didepan mata, anak berpisah dengan orang tua, istri berpisah dengan suami. Saudara kandung berpisah dengan saudara kandung, satu komunitas yang rukun berpisah dan hancur berantakan.

Kita perlu berpikir ulang tentang longsoran dan banjir badang yang marak terjadi saat ini. Turunnya binatang buas ke perkampungan juga disebabkan karena tempat mereka telah diganggu. Sehingga perlu melindungi hutan sebagai lingkungan hidup makhluk lain.

Sampai kesanakah kita membagi cerita duka seperti itu. Jika kita punya sifat kemanusiaan, kenapa tega menebang dan merusak tempat mereka. Haruskah kerakusan dilapiaskan dengan mengelupasi hutan. Bagaimana nasib binatang sebagai tuan rumah dan orang sekitar yang bergantung pada hasil hutan. Sudah hilangkah kewarasan yang kita miliki sampai tega melukai dan menyengsarakan jutaan makhluk lain.

Mereka memang tidak diciptakan berakal, mereka memang tidak sempurna seperti kita. tapi bagaimana dengan kita yang berakal, kenapa akal yang bisa membedakan yang baik dan yang jahat. Lalu kemana akal kita gunakan. Bukankah itu kelebihan kita dari makhluk lain. Karena kita diangkat sebagai khalifah untuk melestarikan bumi ini.

Kita telah berjanji sebelum lahir kepada Tuhan untuk taat kepadanya. Melakukan perbuatan baik dan meninggalkan perbuatan jahat. Ketika kita menebang hutan dengan rakus dan serakah, bukankah kita sudah mengkhianati janji yang telah kita ucapkan dihadapan Tuhan. Apa kita pura-pura lupa dengan seenaknya mengabaikan janji yang telah diikrarkan.

Hebatnya, kita mengkhianati janji yang telah disepakati dengan Tuhan. Kejamnya, kita menggangu, merusak dan membunuh makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Belum sadarkah kita dengan kerakusan dan keserakahan selama ini. Berarti kita tergolong orang-orang yang dicap munafik oleh Allah dalam firmanya.

”Dan bila dikatakan kepada mereka (orang-orang munafik): ”Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi. Mereka menjawab: ”Sesungguhanya kami orang-orang yang mengadakan perbaikan. Ingatlah, sesungguhnya mereka itulah orang-orang yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak sadar”,(QS. Al Baqarah 11-12)

Tak ada gunanya kemunafikam kita tutupi dengan seragam suci. Tak ada gunanya kemunafikan kita tampilkan baik dihadapan publik. Tak ada gunanya semua aparat kita kita rayu dengan uang. Tak ada gunanya penghasilan dari hasil merusak hutan. Tak ada nikmatnya pendapatan dari kebiasaan merusak hutan.

Biar seluruh pengadilan dunia kalah menjaring dan menangkap perusak hutan. Atau Berhasil mengaburkan dan menghilangkan bukti di pengadilan. Mampu merayu para hakim dengan lipatan kertas berharga. Membuat tuntutan Jaksa, tumpul dengan janji tambahan uang atau berhasil membutakan dan menulikan semua aparat.

Ingat, di akhirat kelak akan ada pengadilan yang mengadili dengan seadil-adilnya. Hakim-hakim yang tak menerima sogokan. Aparat tubuh yang bersaksi dengan kebenarannya. Hutan dan isinya yang kita hancurkan ikut bersaksi untuk memberatkan. Putusannya, hukuman berat ke jalan neraka.

Pernahkan kita mengingat sampai ke sana. Jangan pikir dunia ini menjadi surga dengan uang dari penjualan kayu secara besar-besaran. Jangan fikir ketenagan akan kekal dengan uang hasil hutan. Semuanya sedang menumpukkan simpanan api yang akan dibalas di akhirat nanti.

Makin banyak kerusakan yang kita lakukan, maka makin banyak simpanan bara api kita di akhirat. Semuanya terkumpul dengan adil dari hitungan yang kita lakukan. Simpanan itu menjadi milik kita di akhirat kelak. Simpanlah kayu api neraka sebanyak-banyaknya bila ingin menunggu itu kelak.

Memelihara Lingkungan Hidup

Allah dan Rasulnya telah mengingatkan kita tentang kewajiban memelihara Lingkungan Hidup. Melindungi bumi dari kerusakan. Dalam perang sekalipun. Pohon-pohon rindang tetap berlaku larangan untuk ditebang. Apalagi dimasa damai seperti ini. Bukankah makin terlarang lagi untuk menebanginya.

Tak perlu hutan yang di korbankan untuk pembangunan negara. Tak perlu ribuan kubit kayu untuk menutupi devisa negara. Carilah cara lain seperti jasa dan kemampuan kita dibidang lain untuk mensejahterakan rakyat.

Memakmurkan sebuah negara dengan menebang hutan. Sama saja dengan membangun Istana pasir di pinggir pantai. Karena kelak akan mendatangkan malapetaka akibat hutan tidak lagi berfungsi sebagai kehidupan dan pengendali kebutuhan air dan penyeimbang iklim.

Makanya Nabi Muhammad berpesan agar kita senantiasa melestarikan hutan dengan menghentikan menebanginya. Setiap pohon di bumi begitu penting untuk terus dilestarikan. Yang menebang pohon-pohon di hutan dan di jalanan sama dengan meluruskan kepalanya ke neraka seperti Sabda Nabi:

”Barang siapa yang memotong sebuah pohon sidrah, maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke dalam neraka”, (HR Abu Daud, Baihaqi).

Hadist ini begitu jelas dan tegas memperingatkan kita agar tidak memotong pohon sidrah karena sama dengan meluruskan kepala ke neraka. Pohon Sidrah adalah sejenis pohon yang terkenal dengan sebutan al-sidr, pohon yang tumbuh di padang pasir, tahan terhadap panas dan tidak memerlukan air. Pohon seperti ini biasanya dijadikan tempat berteduh oleh para musafir, orang yang memberi makanan ternak, tempat pengembalaan atau tempat untuk berbagai tujuan lain di Arab pada zaman dulu.

Ditempat kita banyak pohon sidrah yang menjadi tempat berteduh banyak orang. Tidak mengherankan bila dulu di Aceh, ada kebiasaan orang yang suka menanam pohon di tempat berteduh dipinggir jalan. Terutama pohon-pohon yang bisa berbuah dan berteduh. Karena bila pohon tersebut bermanfaat untuk orang lain, maka pahala akan terus mengalir kepada orang tersebut tanpa henti. Adat seperti itu perlu dikampanyekan lagi di Aceh. Sebab bukan hanya bermanfaat untuk diri sendiri tetapi juga berguna untuk orang lain.

Berarti Kawasan Ekosistem Leuser dan kawasan hutan lainnya perlu dilindungi. Kawasan Ekosistem Leuser menjadi Pohon Sidrah Raksasa yang perlu dilindungi oleh semua orang. Karena telah memberi manfaat kepada penduduk dunia sehingga pantas di juluki sebagai Pohon Sidrah Raksasa. Yang memotong Pohon Sidrah Raksasa, maka Allah akan meluruskan kepalanya tepat ke neraka. Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang diluruskan ke neraka. Amin!.[]


(Esai ini Juara I Lomba Esai yang dibuat oleh Yayasan Leuser Internasional di Banda Aceh)

Energi Baru untuk Maju dan Sejahtera

Oleh: Hadi Al Sumatrany

Indonesia laksana surga yang terletak di Asia tenggara. Karena letak dan luas wilayahnya serta hasil alamnya yang berlimpah ruah. Kekayaan alam Indonesia sangat menarik perhatian negara luar. Tentu kita masih ingat masa penjajahan dulu ketika orang asing datang menjajah Indonesia. Karena disini tersedia apa yang di perlukan untuk kebutuhan hidup.

Ketika mesin-mesin diciptakan oleh manusia maka mempermudah pekerjaan yang selama ini dikejakan dengan kekuatan fisik manusia. Tapi mesin-mesin tersebut dapat di hidupkan dengan minyak bumi. Maka minyak bumi di gali di seluruh sudut bumi yang kaya akan minyak. Minyak bumi menjadi kebutuhan di seluruh dunia.

Dari penemuan itu ternyata manusia menjadi makhluk konsumtif bahkan ada yang rakus. Rakus karena memakai secara berlebihan dan tak mau berfikir bagaimana kalau suatu saat, apa yang terkandung di bumi, seperti minyak bumi mulai habis. Apalagi yang kita gunakan ketika minyak bumi habis padahal itu menjadi kebutuhan sehari-hari?.

Tak dapat di ingkari karena setiap hari kita membutuhkan minyak bumi. Seperti menerangi seluruh kota kita butuh minyak bumi, menghidupi mesin pembangkit listrik. Menghidupkan pabrik-pabrik raksasa, kapal laut, pesawat terbang, mobil sepeda motor dan kebutuhan rumah tangga. Bagaimana kalau tiba-tiba minyak bumi habis. Apakah malam akan gelap-gulita tanpa penerangan lagi dan mesin-mesin tersebut menjadi besi tua.

Seharusnya kita mulai berfikir untuk mengantisipasi bila kelak minyak bumi habis. Karena semua pabrik-pabrik raksasa tergantung kepada minyak bumi. Begitu juga dengan kapal laut, pesawat terbang, mobil, sepeda motor dan lain-lain? Akankah semua itu menjadi besi-besi mati yang tergelatak ditiap sudut kota bila kelak minyak bumi habis.

Apakah kita akan kembali memakai cara-cara tradisional ketika malam. Masa depan akan kembali ke masa lalu. Kehidupan manusia modern akan diganti dengan kehidupan manusia kuno. Padahal alam menyediakan banyak jawaban tapi kita lupa memanfaatkannya. Hari-hari kita di penuhi dengan pemakaian tapi kurang penciptaan. Setiap hari menghabiskan hasil alam tapi tak tahu memanfaatkannya.

Cara kita mengunakan hasil alam pun rakus karena banyak yang kadang sia-sia. Kita berlomba-lomba untuk mengoleksi banyak mobil, sepeda motor, yang setiap hari menghabiskan banyak minyak bumi. Karena menurut kita uang dapat membeli segalanya. Tapi ketika minyak bumi habis, apa yang kita beli?.

Tidak tergantung kepada minyak bukan berarti kita tak pakai minyak bumi lagi tapi bagaimana sebelum minyak bumi habis, kita mulai memikirkan alternatif lain yang ada di alam ini untuk kita gunakan. Misalnya mulai berfikir untuk membuat bahan pengganti minyak bumi karena suatu saat minyak bumi akan habis.

Bila sekarang pemerintah kita sudah mengeluarkan Intruksi Presiden No 1 Tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati. Bukankah itu menjadi semangat baru untuk berfikir tentang bagaimana memanfaatkan sumber daya nabati yang begitu banyak di Indonesia. Jika dapat di manfaatkan dengan baik maka menjadi satu keberuntungan yang membuat bangsa ini bangkit dari kertertinggalannya selama ini.

Padahal dengan adanya Bahan Bakar Nabati kita dapat menguragi penggunaan Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri. Pernahkah kita menyadarinya bahwa kebutuhan BBM di Indonesia saat ini mencapai 215 juta liter per hari? Sedangkan yang di produksi di dalam negeri hanya 178 juta liter per hari. Berarti harus mengimpor 40 juta liter per hari untuk menutupi kekurangan itu.

Berapa uang yang harus di habiskan untuk mengimpor BBM 40 juta liter per hari? Bukankah uang mengimpor BBM itu dapat digunakan untuk kebutuhan lain. Sehingga bermanfaat untuk bangsa bila kita mau mengunakan Bahan Bakar Nabati sebagai pengganti BBM.

Dulu Indonesia memang di kenal sebagai anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC), tapi sekarang telah menjadi net-importir minyak bumi. Sampai kapan kita akan terus menjadi importir yang setia?. Masih belum sadarkah kita untuk memanfaatkan kekayaan sumber daya nabati yang ada di negeri ini?.

Akankah impor BBM akan berlanjut?. Karena 50 persen kebutuhan energi dalam negeri masih bergantung pada minyak bumi. Padahal, Indonesia kaya sumber energi fosil non-BBM seperti gas alam, batu bara, dan minyak bumi, serta energi terbaru diantaranya panas bumi, biomassa, tenaga hidro, dan panas matahari.

Apalagi harga minyak dunia sering dipengaruhi oleh masalah politik Internasional seperti, konflik Timur-Tengah, ancaman perang antar negara, ancaman terorisme Internasional, persaingan global, konflik internal negara pengempor minyak dan konflik internasional lainya. Semua itu sering membuat harga minyak dunia naik secara gila-gilaan.

Ekses dari kenaikan harga minyak dunia selalu bebannya mengarah ke negara-negara non OPEC yang sangat membutuhkan minyak bumi termasuk juga Indonesia. Maka jangan heran kenaikan minyak dunia juga mempengaruhi perekonomian dalam negeri kita. Karena membengkaknya anggaran yang harus dikeluarkan untuk menutupi pembengkakan biaya yang harus kita keluarkan.

Bila bidang ekonomi terganggu maka bidang lain juga ikut terganggu dan akhirnya kesejahteraan rakyat ikut terpengaruh. Sehingga semua itu berakhir kepada kehancuran ekonomi nasional yang memuat negara sulit untuk bangkit.

Mencintai Produk Sendiri

Bahan Bakar Nabati yang mudah didapatkan di dalam negeri seharusnya menjadi tugas utama untuk dikembangkan secara bersama-sama. Jangan menunggu esok atau lusa dengan manja menggunakan minyak bumi tapi mulai sekarang kita kembali mengembangkan Bahan Bakar Nabati sebagai produk utama untuk meminimalisir penggunaan minyak bumi.

Mulailah membangun kesadaran untuk mencintai produk sendiri. Karena mencintai produk sendiri berarti ikut membangun perekonomian bangsa. Jadi kita perlu bangga karena ikut membantu kesejahteraan rakyat seluruh nusantara dengan memakai produk sendiri dan mengembangkan Bahan Bakar Nabati.

Karena cinta tanah air bukan hanya siap membela tanah air bila diserang oleh negara lain. Tapi mencintai produk sendiri juga bagian dari cinta tanah air. Menciptakan sesuatu yang berguna bagi bangsa juga sama jasanya dengan pahlawan yang gugur dimedan perang ketika membela tanah air tempo dulu.

Kenapa? Karena jika mampu menciptakan suatu produk yang berguna bagi rakyat, maka kita tak perlu menghabiskan uang untuk membeli produk luar negeri. Hasil ciptaan kita dapat di produksi untuk kebutuhan di dalam negeri dan dapat di ekspor keluar negeri yang dapat menambah devisa negara.

Jadi jangan tunggu sampai minyak bumi habis tapi bagaimana memanfaatkan Bahan Bakar Nabati yang mudah didapatkan didalam negeri untuk membangkitkan ekonomi bangsa dalam bersaing dengan negara lain. Ini kewajiban bagi kita sebagai orang yang selalu mengklaim nasionalismenya tinggi. Karena masa depan bangsa tidak cukup dengan janji tapi perlu bukti untuk sebuah kebenarannya.

Sangat disesalkan bila kita punya kesempatan tapi tak mau memanfaatkan. Cukup sudah kita menjadi negara konsumtif selama ini. Karena sudah saatnya untuk menambahkan kesadaran kepada anak bangsa untuk memikirkan bagaimana kebutuhan bangsa terpenuhi dan tercipta dari tangan anak bangsa sendiri serta dapat dimanfaatkan oleh seluruh umat manusia.

Disinilah perlu kerjasama antar seluruh anak bangsa dan pemerintah. Seluruh anak bangsa memulai hidup baru untuk mencintai dan menciptakan produk sendiri dan pemerintah ikut membantu baik dana maupun sarana untuk mengalakkan pembuatan Bahan Bakar Nabati serta penggunaannya di dalam negeri. Kita perlu mengabarkan bahwa Bahan Bakar Nabati produksi utama Indonesia.

Dengan adanya penyediaan dan pemanfaatan Bahan Bakar Nabati dapat menjadi jawaban atas krisis ekonomi yang di hadapi oleh bangsa dan tersedianya pasokan energi dalam negeri secara berkelanjutan. Inilah kesempatan kita sebagai sebuah bangsa yang besar untuk bangkit dan di segani oleh Negara-negara lainnya. Semoga Bahan Bakar Nabati menjadi energi baru untuk maju dan sejahtera seluruh rakyat nusantara.[]

Dari Pendidikan Untuk Kebangkitan

Oleh: Hadi Al Sumatrany

Tsunami yang menimpa Aceh pada 26 Desember 2004 lalu buka hanya luka untuk Aceh tapi menjadi duka seluruh masyarakat Internasional. Musibah yang sangat dahsyat pada abad ini telah membuat masyarakat dunia tersentuh hatinya untuk membantu Aceh yang sedang berduka akibat konflik dan tsunami.

Bala bantuan dari berbagai penjuru dunia datang membantu para korban. Batas Negara, suku, bangsa, warna kulit dan kepercayaan hilang dan diganti atas nama kemanusian antar sesama. Semua berduka dan menyisihkan apa yang ada untuk disumbangkan ke Aceh yang menderita. Berbagi Lembaga Nasional maupun Internasional membantu korban tsunami baik langsung maupun tidak langsung.

Banyaknya sarana dan prasarana yang hancur-lebur menyebabkan berbagai bantuan mengalir ke Aceh. Berbagai negara membantu kebutuhan yang diperlukan oleh para korban tsunami. Mulai dari makanan, tenda, peralatan kesehatan dan berbagai kebutuhan lainnya masuk ke daerah yang dilanda Tsunami. Relawan Nasional dan Internasional datang membantu rakyat Aceh.

Rasa solidaritas antar sesama muncul untuk membantu Aceh. Suasana itu menjadi hikmah bagi Aceh dan masyarakat Internasional dalam menata persatuan dan persaudaraan antar sesama. Karena bantuan tersebut telah membangkitkan rasa kasih sayang antar penduduk dunia. Akibatnya rasa optimisme rakyat Aceh untuk bangkit tumbuh kembali akibat duka konflik dan tsunami yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Solidaritas seperti itu menjadi contoh untuk masa depan dunia dalam membangun pondasi perdamaian yang kokoh. Pondasi perdamaian yang akan menyelamatkan dunia dari malapetaka perang antar sesama. Solidaritas seperti itu penting bagi keluarga besar dalam satu planet yang bernama bumi sebagai rumah kehidupan umat manusia dan makhluk lainnya.

Membantu sesama juga punya makna tersendiri untuk saling membagi dan menyayangi demi perdamaian. Batas negara hanyalah batas antara satu keluarga dengan keluarga lainnya. Sedangkan keluarga besar tetaplah bumi tercinta ini.

Permusuhan antar negara hanya membawa penderitaan, sedangkan perdamaian adalah cita-cita masa depan bumi yang perlu dijaga oleh seluruh penghuninya. Manusia adalah makhluk yang sangat bertanggung jawab atas kelestarian bumi. Karena masa depan bumi punya makna dan nilai yang sangat berharga bagi keberlangsungan penduduknya.

Bila solidaritas yang ditunjukkan ketika musibah menimpa Aceh juga muncul untuk membantu negara-negara yang dilanda kemiskinan. Mungkin rakyat miskin diberbagai negara-negara ikut merasakan bagaimana indahnya hidup ini untuk saling membantu antar sesama. Karena saat itu perbedaan negara, warna kulit, suku, agama dan aliran kepercayaan lainnya tidak lagi menjadi masalah yang diperdebatkan.

Yang menjadi perhitungan adalah atas dasar kebersamaan dalam satu keluarga besar yang bernama rumah tangga bumi tempat kehidupan untuk semua manusia agar saling membantu. Proses saling membantu yang tercipta ketika Aceh menimpa musibah besar bisa menjadi latar belakang untuk memperkuat persatuan dan persaudaraan sesama manusia di planet ini.

Nasib Pendidikan Aceh

Masa konflik telah mengukir sejarah kelam pendidikan Aceh yang hancur karena dibakar oleh pihak-pihak tertentu. Dunia pendidikan Aceh benar-benar berduka karena banyaknya gedung sekolah yang dibakar dan dihancurkan. Padahal gedung sekolah perlu diselamatkan karena menjadi tempat untuk mendidik generasi Aceh agar bebas dari buta huruf.

Namun, ketika itu gedung-gedung sekolah menjadi sasaran penghancuran dan pembakaran. Banyak anak-anak yang terpaksa belajar dalam tenda yang sempit dan panasnya terik di siang hari. Tetapi mereka tetap rajin dalam belajar walapun bukan di ruang kelas yang biasanya.

Banyak anak-anak yang ikut mengungsi karena harus lari dari kampung halamannya. Keamanan yang tidak terjamin dan konflik memuncak membuat mereka tidak aman berada dikampung. Akibatnya anak-anak yang masih bersekolah merasakan dampaknya selama masa konflik.

Suasana itu bukan hanya membuat Aceh mencekam tetapi telah terjadi kekhawatiran terhadap suramnya generasi masa depan tanpa pendidikan. Dapat dibayangkan nasib Aceh bila generasinya tidak mendapatkan pendidikan yang layak. Mungkin Aceh akan terpuruk dalam konflik berkepanjangan dan hilangnya generasi yang punya ilmu pengetahuan untuk mendamaikannya. Namun itu hanya masa lalu yang perlu segera dilupakan dan dijadikan pelajaran untuk bangkit bersama masa depan.

Tsunami menjadi akhir dari kehancuran berbagai fasilitas pendidikan. Dunia pendidikan kembali berduka atas musibah tersebut. Karena bukan hanya gedung sekolah dan peralatannya yang hancur tetapi anak sekolah dan guru turun meninggal dalam musibah itu.

Kejadian itu menjadi kehilangan yang luar biasa dalam sejarah Aceh dan dunia. Karena fasilitas sekolah menjadi harapan untuk menuai masa depan Aceh yang gemilang. Tetapi diberbagai wilayah pesisir banyak anak-anak yang harus belajar di tenda darurat yang serba kekurangan baik buku maupun guru.

Tidak terhitung jumlah gedung sekolah yang hancur karena gelombang tsunami. Pada saat itu berbagai kalangan datang membantu pendidikan Aceh dengan berbagai kebutuhan. Guru bantu datang untuk melanjutkan kegiatan belajar mengajar di tenda darurat.

Dengan bantuan berbagai lembaga nasional dan Internasional, aktivitas pendidikan mulai terselenggara di barak pengungsi. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menghibur anak-anak dan orang dewasa agar tidak larut dalam kesedihan. Anak-anak yang merasakan musibah itu mulai memperlihatkan wajah-wajah keceriaan.

Pendidikan dan kebangkitan

Harus diakui bahwa kebangkitan sebuah negara sangat ditentukan oleh tingkat kualitas sumber daya manusia (SDM) yang tersedia. Tanpa pendidikan yang baik maka nasib sebuah negara dalam berbagai bidang akan terpuruk karena ketidakmampuan generasinya. Karena untuk memajukan sebuah bangsa memerlukan SDM yang bisa diandalkan dalam menangani sejumlah bidang.

Sumber daya alam (SDA) yang melimpah tidak menjamin kemakmuran sebuah negara bila tidak ditangani oleh SDM yang baik. Banyak contoh negara yang punya SDA tetapi tidak merasakan kemakmuran sebaliknya banyak negara yang memiliki SDM yang baik bisa bangkit menjadi negara maju walaupun tidak diperkuat oleh SDA yang tersedia di negaranya. Menjadi jelas bahwa SDM sangat mempengaruhi kebangkitan dan kemajuan sebuah negara.

Untuk mengolah SDA yang ada membutuhkan SDM yang punya pengetahuan dibidang tersebut. Sedangkan SDM sangat ditentukan oleh sarana dan prasarana pendidikan yang baik. Tanpa fasilitas pendidikan yang baik maka mustahil menghasilkan SDM yang dibutuhkan tersebut.

Mungkin belajar dari kebangkitan Jepang melalui peningkatan dibidang pendidikan setelah hancur lebur kota Hirosima dan Nagasaki yang di bom atom oleh sekutu. Maka banyak donatur Nasional maupun Internasional yang memfokuskan pada pembangunan pendidikan di Aceh. Baik bantuan dalam bentuk fisik maupun non-fisik demi kebangkitan Aceh.

ADB dan BRR

Asia Devolepment Bank (ADB) merupakan salah satu donator Internasional yang ikut membantu dibidang pendidikan di Aceh. Program pengadaan buku untuk sekolah/madrasah di Aceh dan Nias melalui Satker BRR Peningkatan Sarana dan Prasarana Sekolah/Madrasah yang didanai oleh ADB merupakan upaya untuk membangun pendidikan Aceh. Program tersebut sangat bermanfaat untuk menghasilkan SDM yang berkualitas.

Apalagi kedepan ADB punya program pembangunan laboratorium untuk sekolah/madrasah di Aceh dan Nias. Ini juga bagian dari upaya ADB untuk memprkuat sarana dan prasarana pendidikan di Aceh. Karena perlengkapan fasilitas pendidikan seperti itu dapat memudahkan siswa untuk memperoleh ilmu melalui praktek langsung.

Kemampuan lebih para siswa di negara maju dari pada negara berkembang karena mereka punya sarana dan prasarana pendidikan yang lebih lengkap. Sehingga upaya ADB dan lembaga Nasional dan Internasional yang membantu dibidang pendidikan Aceh perlu dipuji dan dihargai dengan memanfaatkan sarana tersebut. Para donatur punya niat untuk membangkitkan Aceh melalui bidang pendidikan.

Ditingkat perguruan tinggi, banyak fasilitas pendidikan yang dibangun oleh para donatur melalui BRR Satker Perguruan Tinggi. Disamping itu pemberian beasiswa oleh BRR dan donatur Nasional dan Internasional lainnya juga punya niat baik untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas. Harapan yang sangat besar agar semua pihak peduli dengan kebangkitan pendidikan Aceh sebagai landasan untuk memajukan Aceh.

Deputi Pendidikan di BRR perlu dipertahankan sampai berakhirnya tugas BRR di Aceh. Karena Deputi Pendidikan sangat penting untuk menjadi motor penggerak bagi kebangkitan Aceh melalui pembangunan sarana dan prasarana pendidikan. Karena pendidikan punya peluang besar melahirkan generasi intelektual yang menjadi pondasi masa depan Aceh.

Yang penting, bantuan dari donatur/lembaga Nasional dan Internasional dikelola dengan jujur dan dimanfaatkan untuk kepentingan umum. Karena bila BRR dan Lembaga Nasional dan Internasional habis masa kerjanya di Aceh, kita tersisa sejumlah bangunan fisik yang bisa dimanfaatkan untuk generasi selanjutnya. Hanya itu yang menjadi kekuatan kita untuk bangkit dan sejajar dengan negara-negara maju lainnya. Pendidikan yang berkualitas sama dengan harapan kebangkitan dimasa depan. Semoga Aceh dapat bangkit melalui generasi yang berpendidikan.[]

01 April 2008

Budaya Anti Menyerah

Oleh: Hadi Al Sumatrany

Banyak generasi sekarang yang putus asa dan cepat menyerah dalam menghadapi kehidupan ini. Terutama yang masih duduk di kelas tiga SMU maupun mahasiswa yang sedang kuliah di sejumlah perguruan tinggi. Kegelisahan itu mulai muncul karena terlalu cepat mendramatisir kehidupannya. Mendramatisir kehidupannya secara negatif berarti membunuh kreativitas dan optimisme kehidupan.

Kehidupan yang terbentang luas, hilang seketika oleh pesimisme yang tidak pantas. Padahal menghadapi kehidupan bukan dengan menyesali tapi mulai lebih banyak mempelajari dan menjalaninya secara sabar dan tawakkal. Bukan dengan kebiasaan cepat menyerah kepada kehidupan yang sedang berlangsung tapi bagaimana membudayakan secara nasional agar tumbuh prinsip anti menyerah.

Mendramatisir kehidupan masa depan secara negatif adalah pemikiran dan cara yang salah. Seharusnya pemikiran generasi kita harus optimis karena kehidupan ini penuh tantangan. Dari tantangan itulah kita belajar kematangan dalam menjalani kehidupan ini. Dari tantangan itulah kita diproses untuk menjadi makhluk yang mampu menghadapi segala dimensi kehidupan.

Jadi, sekali gagal, jangan dianggap bahwa kita tidak mampu atau kita di takdirkan sebagai orang malang di dunia ini, tapi kita harus berusaha agar dapat berhasil. Karena kegagalan itu selain sebagai guru untuk mempelajari hikmah dari kegagalan itu sendiri, juga sebagai proses untuk menuju kesuksesan dalam kehidupan murni. Kegagalan jangan dianggap sebagai kekalahan yang tidak mungkin dikalahkan di lain kesempatan.

Bukankah lebih tinggi mendaki sebuah gunung, maka tenaga dan keringat yang harus kita keluarkan menjadi lebih banyak lagi. Begitu juga dalam kehidupan, makin tinggi posisi dan derajat yang ingin dicapai, maka tantangan dan rintangan lebih banyak lagi terbentang. Sehingga di perlukan suatu kesabaran dan kemauan untuk terus berusaha sampai mencapai puncak kesuksesan.

Perlu disadari bahwa banyak orang menjadi sukses karena ia banyak menghadapi kegagalan. Dari kegagalan itu ia mempelajari bagaimana untuk meraih kesuksesan, karena belajar dari kegagalan berarti mencari jawaban untuk kesuksesan. Sehingga menemukan suatu jawaban untuk meraih kesuksesan melalui kemauan yang keras dalam berusaha untuk mencapai tingkat kesuksesan.

Karena kekalahan yang sebenarnya bukan bagaimana kita berhasil di kalahkan. Tetapi bagaimana ketika kita berhenti untuk mengalahkan, itulah kekalahan yang sebenarnya. Jadi tiap-tiap kekalahan dan kegagalan yang kita hadapi jangan dianggap sebagai kekalahan dan kegagalan yang sebenarnya. Tetapi berhenti untuk mengalahkan atau tidak mau berusaha lagi, itulah kekalahan yang sebenarnya.

Perlu di ingat bahwa bagian tubuh kita ini mengikuti apa yang kita pikirkan dan apa yang kita ucapkan. Bila kita mulai memikirkan dan mengatakan tidak mampu atau tidak sanggup maka seluruh sel tubuh akan memerintahkan seluruh sel lain untuk menganggap bahwa itu tidak mampu dilakukan.

Tetapi bila menganggap itu pasti dapat dilakukan atau optimis bahwa itu sanggup dilakukan maka seluruh sel tubuh akan memerintahkan seluruh sel lainnya bahwa itu sanggup dilakukan. Sehingga kita harus selalu optimis dalam hidup ini dengan terus berusaha karena keberhasilan itu akan menjadi kenyataan bila kita sungguh-sunguh belajar dan berusaha dengan prinsip anti menyerah. Karena siapa yang sungguh-sungguh pasti dia berhasil.

Jadi, untuk apa kita pesimis, putus asa dan gelisah dalam hidup ini, kegelisahan itu justru membuat diri kita menderita sebelum waktu penderitaan itu terjadi. Kenapa kita mau membuat diri sendiri menderita hanya lewat sebuah dunia khayalan masa depan. Lewat sebuah penciptaan dunia khayalan dan anggapan jauh kedepan yang belum tentu kejadiannya.

Bukankah itu hanya akan mendatangkan penyakit kepada diri sendiri. Karena memenderitakan diri sendiri lewat dunia khayalan yang terlalu mendahului Tuhan. Padahal itu perlu di hapus dari otak seluruh anak bangsa agar tidak lagi memikirkan atau menciptakan dunia khayalan masa depan yang belum tentu kejadianya.

Optimisme dalam hidup ini bukan hanya angan-angan semata. Tetapi bagaimana optimisme itu ikut menggerakkan kita agar lebih giat lagi dalam belajar, bekerja, berusaha dengan sungguh-sungguh dan tidak lupa berdoa. Sehingga tidak cepat memvonis diri sendiri bahwa diri kita ini sebagai orang yang tidak cerdas atau mengklaim diri ditakdirkan Tuhan sebagai orang bodoh, miskin dan lain-lain.

Padahal pemikiran seperti itu hanya akan membuat kita jatuh kedalam lubang kekalahan sebelum mengalahkan kehidupan nyata. Kenapa harus menyalahkan Tuhan yang membuat kita seperti ini. Bukankah Tuhan telah berfirman kepada manusia “Allah tidak merubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak merubah nasibnya sendiri”. Sehingga untuk merubah nasib seseorang pun itu tergantung pada diri kita sendiri. Bukan berarti Tuhan tidak mampu merubah kita. Tapi kepada Tuhan, kita hanya berdoa sambil berusaha.

Jadi kecerdasan itu bukan karena dia anak orang kaya, karena dia di lahirkan di Ibu kota. Bukan juga karena ia keturunan Profesor atau di dilahirkan di Amerika dan Eropa. Tapi semuanya kembali kepada kegigihan kita dalam berusaha sekuat tenaga agar mampu seperti mereka. Kita mampu, selama ini kita tidak menyadari kemampuan itu. Sehingga perlu sebuah pembuktian bahwa generasi bangsa ini juga menyimpan manusia-manusia sekaliber, Thomas Alva Edison atau Albeirt Estein baik masa sekarang maupun untuk masa depan.

Kita tak perlu minder dengan kehebatan orang Amerika dan Eropa, karena kita juga mampu seperti mereka, asalkan mau belajar melebihi mereka. Kita jangan hanya mampu bercita-cita setinggi langit tapi tak pernah mencapai langit seperti astronot-astronot Amerika dan Eropa. Cita-cita itu memang perlu asal jangan hanya sebatas coretan pelengkap di atas kertas atau hiasan di bibir saja tetapi perlu pembuktian.

Tetapi bagaimana cita-cita itu di ikuti dengan disiplin waktu, belajar yang giat dan berusaha tanpa mau menyerah serta tidak mengalah kepada keadaan. Jangan minder dengan mereka yang telah maju tapi minderlah karena kita malas dan tidak mau berusaha. Kemalasan itulah yang harus kita singkirkan bila ingin sebuah perubahan di negeri ini.

Apa sih hebatnya orang Amerika dan Eropa? bukankah Tuhan sama memberikan waktu kepada kita di dunia ini?. Waktu yang diberikan semuanya sama, yaitu 24 jam sehari semalam. Professor mana yang ada kelebihan waktu sampai 25 jam sehari semalam? Doctor dan ilmuwan mana yang punya waktu sampai 26 jam sehari-semalam? semuanya sama 24 jam sehari semalam. Tapi kenapa ada yang jadi professor, Doktor, orang bodoh dan lain-lain di dunia ini.

Berarti ada kesalahan dalam pembagian waktu kita selama ini, jika mereka lebih banyak belajar, kita mungkin lebih banyak berkeluyuran setiap hari dengan bersantai di Café-café, di Mal-Mal dan tempat lain. Jadi, mulai sekarang kebiasaan buruk itu perlu kita tinggalkan. Disiplin waktu perlu menjadi budaya kita untuk bangkit dari ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain di dunia.

Saya pernah melihat satu tim relawan Jepang yang masuk ke sebuah Café di Aceh. Yang membuat saya penasaran ketika melihat ke arah anak orang Jepang itu. Walaupun minuman dan makanan sudah tersedia di depannya, dia justru asyik membaca buku yang ada di tangannya. Ketika mereka mau keluar dari Café, anak itu baru minum dan mengambil sepotong kue. Saya merasa heran terhadap anak kecil tersebut. Maka wajar orang Jepang mampu menjadikan negaranya sebagai salah satu negara maju di dunia ini.

Seharusnya kita belajar seperti mereka dan merasa cemburu kepada negara-negara maju yang kuat ekonominya dan sejahtera rakyatnya. Kecemburuan itu bukan berarti harus menjelek-jelekkan negara sendiri. Tetapi kecemburuan itu sebagai pemicu untuk lebih giat lagi dalam belajar dan berusaha. Sehingga dapat membangun negara ini agar menjadi maju dan berkembang, baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, teknologi, pertahanan negara dan bidang lain-lain.

Melalui kecemburuan itu kita dapat membentuk watak manusia Indonesia yang giat belajar tanpa kenal lelah dan mau belajar dari negara lain agar dapat menjadi negara besar yang kuat dan sejahtera. Jika negara lain dapat melakukannya berarti bangsa ini harus optimis bahwa kita dapat lebih jaya dari mereka. Kita punya potensi yang sangat besar untuk menjadi negara maju di Asia Tenggara dan di segani oleh negara-negara di dunia.

Tradisi belajar tanpa kenal waktu perlu menjadi kebiasaan sehari-hari di negara ini. Seperti saran seorang Pengusaha Korea, bahwa jika kita ingin maju seperti orang Amerika, maka kita perlu belajar melebihi mereka, tetapi bila kita belajar sama seperti mereka, maka kita tidak dapat sejajar dengan mereka.

Berfikir Kedepan

Cara berfikir kedepan mahasiswa kita saat ini juga sangat memprihatinkan. Mahasiswa terbebani oleh tidak ada lapangan kerja setelah selesai kuliah. Mereka dibebani oleh hantu yang namanya dunia kerja. Mereka malu pulang kampung setelah selesai kuliah tapi belum ada kerja tetap. Selama ini, banyak generasi kita yang punya tujuan akhir setelah kuliah hanya sebatas untuk mendapatkan kerja semata. Tujuan akhir generasi di negeri ini hanya sebatas menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Seharusnya cita-cita mahasiswa kita jangan hanya sebatas PNS, tapi bagaimana mampu menggenggam semua gelar akademik agar dapat memajukan bangsanya. Karena pendidikan yang tinggi akan melahirkan intelektual-intelektual yang berguna untuk pembangunan negeri ini. Dari pemikiran-pemikiran para intelektual inilah harapan terbentang untuk mendidik generasi berikutnya dalam menata bangsa ini menuju ke arah kemajuan dan kebangkitan.

Jika kuliah hanya bertujuan untuk mencari kerja semata maka kemampuan bangsa ini untuk mengejar ketertinggalannya akan sulit tercapai. Karena tujuan kuliah bukan memikirkan kerja semata tapi bagaimana menjadi orang yang berguna, mampu membangun dan memajukan bangsanya sendiri. Sehingga ia menjadi anak bangsa yang patut di puji karena bukan hanya mencari materi pribadi semata tapi mau memikirkan nasib bangsanya.

Ketakutan tidak ada kerja setelah kuliah, bukan hal yang perlu di khawatirkan. Asalkan punya kemampuan ilmu di bidang yang kita pelajari di bangku kuliah, dengan kemampuan itu kita akan menjadi orang yang berguna sepanjang masa. Bila benar-benar belajar maka materi akan mengikutinya dari belakang. Sehingga dengan adanya ilmu maka pangkat, jabatan dan uang akan datang sendiri.

Ilmu sangat berguna bagi masa depan kita, karena dengan ilmu, kita dapat membangun negeri ini, dengan ilmu pula kehidupan yang sejahtera dengan mudah dapat diraih. Karena dengan ilmu kita menjadi orang yang terhormat dalam masyarakat dan berguna bagi bangsa dan negara.

Dengan menuntut ilmu setinggi-tingginya maka budaya pantang menyerah perlu menjadi budaya nasional untuk mencapai ilmu tersebut. Karena budaya pantang menyerah menjadikan kita lebih percaya diri dalam menghadapi kehidupan. Jangan takut karena orang miskin sehingga kita tak pantas kuliah. Jangan pernah membunuh cita-cita dan masa depan hanya karena kita anak orang miskin. Jika giat belajar maka maka kita mampu menandingi siapapun. Jadi kemiskinan jangan menjadi alasan untuk menghentikan cita-cita.

Perlu di ingat bahwa kesuksesan itu bukan milik sekelompok orang tapi milik siapa saja yang mau dan berusaha dengan giat. Siapapun dapat sukses bila ia mau menjadi orang sukses dengan cara sungguh-sungguh mencapainya. Melalui belajar yang rajin dan berusaha sekuat tenaga.

Jangan pernah menyesali kehidupan ini, jangan pernah merasa terkalahkan hanya karena terlahir sebagai orang miskin, di pedalaman yang jauh dari kota, dengan tubuh cacat atau lainnya. Yakinlah bahwa masih banyak orang yang kurang sempurna ketika terlahir kedunia ini. Tetapi itu semua bagian dari cobaan Tuhan yang punya banyak hikmah di balik semua itu.

Maka mulai sekarang mulailah merubah diri sendiri dengan berkomitmen untuk merubahnya dengan cara disiplin waktu dalam belajar. Ketahuilah bahwa dunia ini terus berjalan kedepan jadi jangan berhenti hanya pada batas pertama karena kamu akan tertinggal jauh dari orang lain.

Masa depanmu ada pada diri kalian sendiri. Apakah masa depanmu akan bahagia maka kamulah yang mampu untuk melakukannya atau masa depanmu akan lebih buruk lagi maka kamulah yang dapat melakukannya. Jadi mulai merubah diri sendiri dan keluarga dan masyarakat berarti kita telah merubah negeri kita sendiri.

Masa depan bangsa ini ada di pundak generasi sekarang. Tetapi jika generasi sekarang gagal maka menjadi catatan sejarah yang akan di kenang oleh generasi dimasa depan bahwa generasi sebelumnya gagal dalam memajukan bangsa ini. Jangan mengorbankan generasi kedepan oleh tindakan kita di masa sekarang. Jadilah sebagai generasi yang bertanggungjawab kepada bangsanya sendiri. Maka jadilah generasi anti menyerah dalam menghadapi setiap liku-liku kehidupan ini.[]

Pemain Persiraja

Pemain Persiraja
Playmaker Persiraja, Patrick Sofian Ghigani