01 April 2008

Budaya Anti Menyerah

Oleh: Hadi Al Sumatrany

Banyak generasi sekarang yang putus asa dan cepat menyerah dalam menghadapi kehidupan ini. Terutama yang masih duduk di kelas tiga SMU maupun mahasiswa yang sedang kuliah di sejumlah perguruan tinggi. Kegelisahan itu mulai muncul karena terlalu cepat mendramatisir kehidupannya. Mendramatisir kehidupannya secara negatif berarti membunuh kreativitas dan optimisme kehidupan.

Kehidupan yang terbentang luas, hilang seketika oleh pesimisme yang tidak pantas. Padahal menghadapi kehidupan bukan dengan menyesali tapi mulai lebih banyak mempelajari dan menjalaninya secara sabar dan tawakkal. Bukan dengan kebiasaan cepat menyerah kepada kehidupan yang sedang berlangsung tapi bagaimana membudayakan secara nasional agar tumbuh prinsip anti menyerah.

Mendramatisir kehidupan masa depan secara negatif adalah pemikiran dan cara yang salah. Seharusnya pemikiran generasi kita harus optimis karena kehidupan ini penuh tantangan. Dari tantangan itulah kita belajar kematangan dalam menjalani kehidupan ini. Dari tantangan itulah kita diproses untuk menjadi makhluk yang mampu menghadapi segala dimensi kehidupan.

Jadi, sekali gagal, jangan dianggap bahwa kita tidak mampu atau kita di takdirkan sebagai orang malang di dunia ini, tapi kita harus berusaha agar dapat berhasil. Karena kegagalan itu selain sebagai guru untuk mempelajari hikmah dari kegagalan itu sendiri, juga sebagai proses untuk menuju kesuksesan dalam kehidupan murni. Kegagalan jangan dianggap sebagai kekalahan yang tidak mungkin dikalahkan di lain kesempatan.

Bukankah lebih tinggi mendaki sebuah gunung, maka tenaga dan keringat yang harus kita keluarkan menjadi lebih banyak lagi. Begitu juga dalam kehidupan, makin tinggi posisi dan derajat yang ingin dicapai, maka tantangan dan rintangan lebih banyak lagi terbentang. Sehingga di perlukan suatu kesabaran dan kemauan untuk terus berusaha sampai mencapai puncak kesuksesan.

Perlu disadari bahwa banyak orang menjadi sukses karena ia banyak menghadapi kegagalan. Dari kegagalan itu ia mempelajari bagaimana untuk meraih kesuksesan, karena belajar dari kegagalan berarti mencari jawaban untuk kesuksesan. Sehingga menemukan suatu jawaban untuk meraih kesuksesan melalui kemauan yang keras dalam berusaha untuk mencapai tingkat kesuksesan.

Karena kekalahan yang sebenarnya bukan bagaimana kita berhasil di kalahkan. Tetapi bagaimana ketika kita berhenti untuk mengalahkan, itulah kekalahan yang sebenarnya. Jadi tiap-tiap kekalahan dan kegagalan yang kita hadapi jangan dianggap sebagai kekalahan dan kegagalan yang sebenarnya. Tetapi berhenti untuk mengalahkan atau tidak mau berusaha lagi, itulah kekalahan yang sebenarnya.

Perlu di ingat bahwa bagian tubuh kita ini mengikuti apa yang kita pikirkan dan apa yang kita ucapkan. Bila kita mulai memikirkan dan mengatakan tidak mampu atau tidak sanggup maka seluruh sel tubuh akan memerintahkan seluruh sel lain untuk menganggap bahwa itu tidak mampu dilakukan.

Tetapi bila menganggap itu pasti dapat dilakukan atau optimis bahwa itu sanggup dilakukan maka seluruh sel tubuh akan memerintahkan seluruh sel lainnya bahwa itu sanggup dilakukan. Sehingga kita harus selalu optimis dalam hidup ini dengan terus berusaha karena keberhasilan itu akan menjadi kenyataan bila kita sungguh-sunguh belajar dan berusaha dengan prinsip anti menyerah. Karena siapa yang sungguh-sungguh pasti dia berhasil.

Jadi, untuk apa kita pesimis, putus asa dan gelisah dalam hidup ini, kegelisahan itu justru membuat diri kita menderita sebelum waktu penderitaan itu terjadi. Kenapa kita mau membuat diri sendiri menderita hanya lewat sebuah dunia khayalan masa depan. Lewat sebuah penciptaan dunia khayalan dan anggapan jauh kedepan yang belum tentu kejadiannya.

Bukankah itu hanya akan mendatangkan penyakit kepada diri sendiri. Karena memenderitakan diri sendiri lewat dunia khayalan yang terlalu mendahului Tuhan. Padahal itu perlu di hapus dari otak seluruh anak bangsa agar tidak lagi memikirkan atau menciptakan dunia khayalan masa depan yang belum tentu kejadianya.

Optimisme dalam hidup ini bukan hanya angan-angan semata. Tetapi bagaimana optimisme itu ikut menggerakkan kita agar lebih giat lagi dalam belajar, bekerja, berusaha dengan sungguh-sungguh dan tidak lupa berdoa. Sehingga tidak cepat memvonis diri sendiri bahwa diri kita ini sebagai orang yang tidak cerdas atau mengklaim diri ditakdirkan Tuhan sebagai orang bodoh, miskin dan lain-lain.

Padahal pemikiran seperti itu hanya akan membuat kita jatuh kedalam lubang kekalahan sebelum mengalahkan kehidupan nyata. Kenapa harus menyalahkan Tuhan yang membuat kita seperti ini. Bukankah Tuhan telah berfirman kepada manusia “Allah tidak merubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak merubah nasibnya sendiri”. Sehingga untuk merubah nasib seseorang pun itu tergantung pada diri kita sendiri. Bukan berarti Tuhan tidak mampu merubah kita. Tapi kepada Tuhan, kita hanya berdoa sambil berusaha.

Jadi kecerdasan itu bukan karena dia anak orang kaya, karena dia di lahirkan di Ibu kota. Bukan juga karena ia keturunan Profesor atau di dilahirkan di Amerika dan Eropa. Tapi semuanya kembali kepada kegigihan kita dalam berusaha sekuat tenaga agar mampu seperti mereka. Kita mampu, selama ini kita tidak menyadari kemampuan itu. Sehingga perlu sebuah pembuktian bahwa generasi bangsa ini juga menyimpan manusia-manusia sekaliber, Thomas Alva Edison atau Albeirt Estein baik masa sekarang maupun untuk masa depan.

Kita tak perlu minder dengan kehebatan orang Amerika dan Eropa, karena kita juga mampu seperti mereka, asalkan mau belajar melebihi mereka. Kita jangan hanya mampu bercita-cita setinggi langit tapi tak pernah mencapai langit seperti astronot-astronot Amerika dan Eropa. Cita-cita itu memang perlu asal jangan hanya sebatas coretan pelengkap di atas kertas atau hiasan di bibir saja tetapi perlu pembuktian.

Tetapi bagaimana cita-cita itu di ikuti dengan disiplin waktu, belajar yang giat dan berusaha tanpa mau menyerah serta tidak mengalah kepada keadaan. Jangan minder dengan mereka yang telah maju tapi minderlah karena kita malas dan tidak mau berusaha. Kemalasan itulah yang harus kita singkirkan bila ingin sebuah perubahan di negeri ini.

Apa sih hebatnya orang Amerika dan Eropa? bukankah Tuhan sama memberikan waktu kepada kita di dunia ini?. Waktu yang diberikan semuanya sama, yaitu 24 jam sehari semalam. Professor mana yang ada kelebihan waktu sampai 25 jam sehari semalam? Doctor dan ilmuwan mana yang punya waktu sampai 26 jam sehari-semalam? semuanya sama 24 jam sehari semalam. Tapi kenapa ada yang jadi professor, Doktor, orang bodoh dan lain-lain di dunia ini.

Berarti ada kesalahan dalam pembagian waktu kita selama ini, jika mereka lebih banyak belajar, kita mungkin lebih banyak berkeluyuran setiap hari dengan bersantai di Café-café, di Mal-Mal dan tempat lain. Jadi, mulai sekarang kebiasaan buruk itu perlu kita tinggalkan. Disiplin waktu perlu menjadi budaya kita untuk bangkit dari ketertinggalan dari bangsa-bangsa lain di dunia.

Saya pernah melihat satu tim relawan Jepang yang masuk ke sebuah Café di Aceh. Yang membuat saya penasaran ketika melihat ke arah anak orang Jepang itu. Walaupun minuman dan makanan sudah tersedia di depannya, dia justru asyik membaca buku yang ada di tangannya. Ketika mereka mau keluar dari Café, anak itu baru minum dan mengambil sepotong kue. Saya merasa heran terhadap anak kecil tersebut. Maka wajar orang Jepang mampu menjadikan negaranya sebagai salah satu negara maju di dunia ini.

Seharusnya kita belajar seperti mereka dan merasa cemburu kepada negara-negara maju yang kuat ekonominya dan sejahtera rakyatnya. Kecemburuan itu bukan berarti harus menjelek-jelekkan negara sendiri. Tetapi kecemburuan itu sebagai pemicu untuk lebih giat lagi dalam belajar dan berusaha. Sehingga dapat membangun negara ini agar menjadi maju dan berkembang, baik dalam bidang politik, ekonomi, pendidikan, sosial budaya, teknologi, pertahanan negara dan bidang lain-lain.

Melalui kecemburuan itu kita dapat membentuk watak manusia Indonesia yang giat belajar tanpa kenal lelah dan mau belajar dari negara lain agar dapat menjadi negara besar yang kuat dan sejahtera. Jika negara lain dapat melakukannya berarti bangsa ini harus optimis bahwa kita dapat lebih jaya dari mereka. Kita punya potensi yang sangat besar untuk menjadi negara maju di Asia Tenggara dan di segani oleh negara-negara di dunia.

Tradisi belajar tanpa kenal waktu perlu menjadi kebiasaan sehari-hari di negara ini. Seperti saran seorang Pengusaha Korea, bahwa jika kita ingin maju seperti orang Amerika, maka kita perlu belajar melebihi mereka, tetapi bila kita belajar sama seperti mereka, maka kita tidak dapat sejajar dengan mereka.

Berfikir Kedepan

Cara berfikir kedepan mahasiswa kita saat ini juga sangat memprihatinkan. Mahasiswa terbebani oleh tidak ada lapangan kerja setelah selesai kuliah. Mereka dibebani oleh hantu yang namanya dunia kerja. Mereka malu pulang kampung setelah selesai kuliah tapi belum ada kerja tetap. Selama ini, banyak generasi kita yang punya tujuan akhir setelah kuliah hanya sebatas untuk mendapatkan kerja semata. Tujuan akhir generasi di negeri ini hanya sebatas menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Seharusnya cita-cita mahasiswa kita jangan hanya sebatas PNS, tapi bagaimana mampu menggenggam semua gelar akademik agar dapat memajukan bangsanya. Karena pendidikan yang tinggi akan melahirkan intelektual-intelektual yang berguna untuk pembangunan negeri ini. Dari pemikiran-pemikiran para intelektual inilah harapan terbentang untuk mendidik generasi berikutnya dalam menata bangsa ini menuju ke arah kemajuan dan kebangkitan.

Jika kuliah hanya bertujuan untuk mencari kerja semata maka kemampuan bangsa ini untuk mengejar ketertinggalannya akan sulit tercapai. Karena tujuan kuliah bukan memikirkan kerja semata tapi bagaimana menjadi orang yang berguna, mampu membangun dan memajukan bangsanya sendiri. Sehingga ia menjadi anak bangsa yang patut di puji karena bukan hanya mencari materi pribadi semata tapi mau memikirkan nasib bangsanya.

Ketakutan tidak ada kerja setelah kuliah, bukan hal yang perlu di khawatirkan. Asalkan punya kemampuan ilmu di bidang yang kita pelajari di bangku kuliah, dengan kemampuan itu kita akan menjadi orang yang berguna sepanjang masa. Bila benar-benar belajar maka materi akan mengikutinya dari belakang. Sehingga dengan adanya ilmu maka pangkat, jabatan dan uang akan datang sendiri.

Ilmu sangat berguna bagi masa depan kita, karena dengan ilmu, kita dapat membangun negeri ini, dengan ilmu pula kehidupan yang sejahtera dengan mudah dapat diraih. Karena dengan ilmu kita menjadi orang yang terhormat dalam masyarakat dan berguna bagi bangsa dan negara.

Dengan menuntut ilmu setinggi-tingginya maka budaya pantang menyerah perlu menjadi budaya nasional untuk mencapai ilmu tersebut. Karena budaya pantang menyerah menjadikan kita lebih percaya diri dalam menghadapi kehidupan. Jangan takut karena orang miskin sehingga kita tak pantas kuliah. Jangan pernah membunuh cita-cita dan masa depan hanya karena kita anak orang miskin. Jika giat belajar maka maka kita mampu menandingi siapapun. Jadi kemiskinan jangan menjadi alasan untuk menghentikan cita-cita.

Perlu di ingat bahwa kesuksesan itu bukan milik sekelompok orang tapi milik siapa saja yang mau dan berusaha dengan giat. Siapapun dapat sukses bila ia mau menjadi orang sukses dengan cara sungguh-sungguh mencapainya. Melalui belajar yang rajin dan berusaha sekuat tenaga.

Jangan pernah menyesali kehidupan ini, jangan pernah merasa terkalahkan hanya karena terlahir sebagai orang miskin, di pedalaman yang jauh dari kota, dengan tubuh cacat atau lainnya. Yakinlah bahwa masih banyak orang yang kurang sempurna ketika terlahir kedunia ini. Tetapi itu semua bagian dari cobaan Tuhan yang punya banyak hikmah di balik semua itu.

Maka mulai sekarang mulailah merubah diri sendiri dengan berkomitmen untuk merubahnya dengan cara disiplin waktu dalam belajar. Ketahuilah bahwa dunia ini terus berjalan kedepan jadi jangan berhenti hanya pada batas pertama karena kamu akan tertinggal jauh dari orang lain.

Masa depanmu ada pada diri kalian sendiri. Apakah masa depanmu akan bahagia maka kamulah yang mampu untuk melakukannya atau masa depanmu akan lebih buruk lagi maka kamulah yang dapat melakukannya. Jadi mulai merubah diri sendiri dan keluarga dan masyarakat berarti kita telah merubah negeri kita sendiri.

Masa depan bangsa ini ada di pundak generasi sekarang. Tetapi jika generasi sekarang gagal maka menjadi catatan sejarah yang akan di kenang oleh generasi dimasa depan bahwa generasi sebelumnya gagal dalam memajukan bangsa ini. Jangan mengorbankan generasi kedepan oleh tindakan kita di masa sekarang. Jadilah sebagai generasi yang bertanggungjawab kepada bangsanya sendiri. Maka jadilah generasi anti menyerah dalam menghadapi setiap liku-liku kehidupan ini.[]

Tidak ada komentar:

Pemain Persiraja

Pemain Persiraja
Playmaker Persiraja, Patrick Sofian Ghigani