01 April 2008

HMI, Kembalilah Ke Kampus

Oleh: Hadi Al Sumatrany

Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) sudah terlalu besar sebagai sebuah organisasi perjuangan di Indonesia. Aktivis HMI tersebar dari Sabang sampai Mareuke. Berbagai level legislative, eksekutif dan yudikatif baik di Daerah maupun Pusat telah di isi oleh kader-kader organisasi hijau hitam ini. Dikalangan mahasiswa pun, aktivis HMI mudah dikenali dengan kemampuannya mengolah vokal didepan forum hingga membuat peserta forum takjub melihat dan mendengarnya.

Semua itu, masih ada pada diri kader HMI saat ini. Jika dulu HMI berjaya dengan perlawanannya terhadap PKI, sekarang bagaiamana kader HMI mengisi pembangunan bangsa. Harus diakui bahwa HMI berjasa mencetak kader terbaiknya untuk bangsa ini. HMI masih produktif sebagai pabrik pencetak kader bangsa. Apakah pabrik itu akan terus berjaya mencetak kader bangsa?.

Yang jelas HMI belum mati sejarahnya. Tetap di beberapa daerah, HMI justru lemah dalam pergerakannya. HMI lemah dalam perekrumen kadernya dan HMI lupa sebagai insan akademis dan insan intelektual yang sangat dibanggakanya. Sehingga tidak sedikit kader HMI yang terlambat selesai kuliah. Ini bukan karena HMI tetapi karena pemahaman insan akademis dan insan intelektual tidak masuk pada realisasinya.

Masih adakah waktu untuk berubah?. Yang jelas tak ada waktu untuk mengatakan terlambat. Apalagi harus mengatakan sangat sulit. Waktu untuk berubah masih terbuka, tinggal kita saja kembali kepada apa yang telah diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Jika kita ingin membandingkannya, ini sama saja seperti partai politik yang mengabaikan ideologi, AD/ART partainya. Mereka terombang ambing oleh kesesatannya. Jika mereka ingin stabil, mereka harus kembali kepada ideology dan AD/ART Partainya. Dengan demikian arah perjuangan partai tersebut kembali ke jalan yang sebenarnya.

Begitu juga dengan HMI, sebelum mereka menjadi aktivis yang berkualitas, maka yang sangat penting adalah memahami dulu tentang ke-HMI-annya. Setelah itu baru mempraktekkan apa yang telah didapatkan dari HMI. Karena dewasa ini banyak kader HMI tapi sedikit yang berkualitas. Ini disebabkan karena kader HMI telah meninggalkan seragam yang sebenarnya.

Ini juga tidak jauh berbeda dengan nasib umat Islam saat ini. Kenapa Islam tidak maju, kenapa umat Islam tidak menjadi pemimpin dunia, ini disebabkan karena umat Islam telah meninggalkan Al Quran sebagai pedomannya. Umat Islam tidak lagi belajar Al Quran. Sehingga apa yang ada dalam Al Quran tidak menjadi tugas yang harus dilaksanakannya.

Hal yang sama juga terjadi pada umat Islam yang memahami ajaran Islam. Tetapi mereka tidak mempraktekkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga perilaku mereka tidak mencerminkan seorang mukmin. Islam melarang segala jenis pencurian tetapi ada orang Islam yang ikut mencuri uang negara. Korupsi menjadi tren dinegeri ini karena nilai-nilai Islam tidak ikut dalam praktek kehidupannya.

Kembali ke HMI, bila seorang kader tidak memahami ke-HMI-annya, maka mereka juga menyimpang dalam kehidupannya. Ketika kader HMI dituntut menjadi insan akademis, tetapi banyak kader HMI yang hancur-hancuran nilai kuliahnya. Ini menandakan bahwa mewujudkan insan akademis tidak masuk dalam kegiatan kuliahnya. sehingga HMI mempunyai banyak kader tetapi masih ada yang minim kualitasnya.

Jika ini terus ikut dalam perjalanan HMI, bukan tidak mungkin HMI akan menjadi organisasi yang dihitung diantara organisasi lainnya. Tetapi bukan organisasi yang diperhitungkan ditengah banyaknya bermunculan organisasi lain. Masa depan HMI perlu diselamatkan dengan melahirkan kader yang berkualitas yang menjadikan buku sebagai menu hariannya. Kita perlu mempelajari kitab suci HMI. Setelah mempelajarinya maka parktekkan apa yang diajarkan dalam kitab suci HMI tersebut, perlu dipraktekkan dalam kehidupannya.

Menjadi Singa Kampus

Kampus adalah daerah tempur HMI yang sebenarnya. Jika HMI seperti singa maka kampus adalah hutanya. Sehingga bila singa masuk kota kemungkinan dia menjadi pemain sirkus. Karena kota bukanlah tempat yang sebenarnya bagi singa, (Ampuh Devayan).

Menjadikan kampus sebagai tempat untuk membangun generasi intelektual adalah lahan yang tepat untuk mewujudkannya. Dari kampuslah bibit-bibit intelektual dipupuk dengan baik sehingga bisa dipanen dan bermanfaat bagi bangsa ini.

Dikampus pulah HMI perlu mengibarkan benderanya agar lebih banyak lagi mahasiswa mengelulu bendera HMI. Dengan kader yang banyak dan kegiatan yang berjalan maka kualitas dan pengikut HMI akan bertambah. Melalui diskusi-diskusi rutin kemampuan kader bisa diwujudkan dengan baik.

Insan akademis yang menjadi tujuan HMI adalah seragam yang perlu dijaga agar tidak kehilangan wujudnya. Mwujudkan insan akademis jangan hanya menjadi slogan dan simbol tetapi bagaimana mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari melalui budaya membaca buku tanpa jeda. Karena, seorang kader yang banyak membaca buku, ia akan menjadi kader yang berilmu sedangkan kader yang tidak membaca buku, kemungkinan akan menjadi kader yang lugu. Kader yang lugu adalah penyakit organisasi yang perlu di basmi di HMI.

Seorang kader HMI perlu menjadikan buku sebagai teman sejati. Disinilah letak insan akademis seorang kader HMI bila dibandingkan dengan kader-kader organisasi lain yang jarang membaca buku. Jika seorang kader adalah kutu buku maka dapat dilihat kevokalannya dalam forum. Kemampuanya berbicara dalam forum bukan saja membuatnya terkenal tetapi membuat orang memadang HMI sebagai organisasi intelektual yang perlu diperhitungkan.

Dengan demikian, sangat mudah mahasiswa lain untuk bergabung dengan HMI. Makin banyak kader, maka makin mudah berjuang untuk kepentingan umat. Karena kader yang banyak dan berkualitas, menunjukkan keberhasilan tujuan HMI. Namun bila kader banyak tetapi tidak berkualitas maka tujuan HMI belum berhasil.

Kampus adalah tempat untuk membangun kekuatan-kekuatan mahasiswa Islam yang berguna bagi bangsa dan Agama. Kampus adalah tempat berkumpulnya calon-calon intelektual muda. Jika calon intelektual muda ini tidak dibekali dengan nilai-nilai ke-islaman, kita takutkan mereka menjadi generasi yang lebih mementingkan kepentingan pribadi ketimbang kepentingan umat.

Bendera HMI perlu berkibar dikampus. Mulailah membangun kekuatan intelektual Islam yang berhati Mekkah dan berpikiran dunia. Hidupkan forum-forum diskusi dikampus. Kembalilah ke kampus untuk membangun kumpulan intelektual yang dapat merubah bangsa ini agar maju dan sejahtera. HMI, kembalilah ke kampus masing-masing. Kibarkan benderamu.[]

Tidak ada komentar:

Pemain Persiraja

Pemain Persiraja
Playmaker Persiraja, Patrick Sofian Ghigani