Oleh: Hadi Al Sumatrany
Segala puji bagi Allah yang telah membuka hati kita semua untuk damai dalam melaksanakan pilkada. Semoga kedamaian ini terus berlanjut tanpa terhenti demi pembangun kembali bumi Aceh yang kita cintai ini.
Pilkada telah usai, tapi ini baru selesai pada tingkat pemilihannya. Sedangkan yang lainnya masih berjalan, mulai dari perhitungan yang menentukan siapa pemimpin Aceh kedepan sampai bagaimana komitmen kita semua untuk terus hidup damai dan mendukung serta membantu mewujudkan perdamaian Aceh yang abadi melalui pembangunan dan kesejahteraan yang merata.
Kita harus bangga karena telah membuktikan komitmen untuk menjaga perdamaian ini. Hari ini kita harus bangga karena orang-orang luar Aceh, memuji kita terhadap keberhasilan sebuah event besar yang dulunya membuat mereka pada kekhawatiran yang sangat meragukan terwujudnya pilkada damai.
Tapi hari ini kita patut menangis, bukan karena kesedihan tapi kegembiraan pada sebuah kemenangan untuk perdamaian di bumi serambi mekkah. Konflik selama 30 tahun lebih dan berlarut-larut yang pernah membuat kita bermusuhan. Tapi hari ini telah kita buktikan. Betapa indahnya sebuah perdamaian dan proses demokrasi tanpa permusuhan dan kecurigaan yang sedang kita jalani ini.
Kita juga harus bangga, karena tanggung jawab dan sikap tauladan telah kita tunjukan, bukan saja kepada rakyat
Keberhasilan kita dalam menyukseskan pilkada damai patut kita banggakan. Dan terimakasih kepada semua pihak patut kita ucapkan. Ternyata konflik bersenjata yang telah membuat jarak diantara anak bangsa, kini berakhir dengan pelukan kedamaian dan persaudaraan yang akrab diantara anak bangsa.
Sudah cukup air mata yang telah kita tumpahkan, sangat banyak harta, tenaga yang telah kita buang secara sia-sia. Kinilah saatnya untuk mengabdikan diri kepada negeri ini. Sekaranglah waktu yang tepat untuk melepaskan pakaian kebencian, permusuhan, dan saling menyalahkan.
Saatnyalah bagi kita untuk memakai baju baru, baju putih yang bebas dari noda permusuhan, dendam, saling curiga dan siling menyalahkan. Karena semua itu hanyalah pekerjaan sia-sia yang terus di desak oleh penasehat yang bernama syetan. Yang selalu mengajak kita untuk bermusuhan dan dan memutuskan tali silaturrahmi di antara kita.
Kesadaran untuk mewujukan cita-cita perdamaian yang diharapkan oleh semua orang. Terlebih lagi anak-anak kita, cucu-cucu kita di masa depan. Tak ada gunanya permusuhan dan tak ada guna saling menyalahkan. Tapi saatnyalah merapatkan bahu dari semua aliran, partai, kedaerahan dan perbedaan-perbedaan yang berlebihan lainnya yang membuat kita bermusuhan.
Mari kita rapatkan barisan, menyatukan kekuatan dan pemikiran untuk cita-cita suci yaitu tegak pondasi kejujuran dan persaudaraan yang menyebar ke semua daerah serta terwujudnya pembangunan yang berkeadilan di bumi Aceh yang tercinta.
Yakinlah bahwa kita dapat mewujudkan semua itu secara bersama-sama dalam satu ikatan yang kokoh yaitu persaudaraan diantara kita menjadi kesadaran massal bagi kita seperti hidup di dalam satu atap, satu tanah air, satu kebanggaan, satu tujuan dalam kelurga besar rakyat Aceh baik di timur, di barat, diselatan dan ditengah.
Kita harus berkomitmen bahwa siapapun yang terpilih kelak. Dia kita terima dengan lapang dada sebagai kemenangan rakyat, bukan kemenangan satu pihak, bukan kemenangan satu golongan, bukan kemenangan satu daerah, bukan kemenangan satu suku, tapi kemenagan kita semua.
Keberhasilan yang kita capai ini harus mampu kita wujudkan dalam kenerja kedepan tanpa ada diskriminasi antara orang timur, barat, selatan dan tengah tapi harus di wujudkan dalam pembangunan yang berkeadilan dan merata di seluruh Aceh.
Dan kewajiban kita semua untuk membuka segala penghalang yang memisahkan kita dengan pemimpin dan memisahkan pemimpin dengan rakyatnya. Sehingga tali persaudaraan benar-benar terbuat dari baja yang kokoh yang tetap kita peliharakan demi masa depan Aceh..
Bagi yang menang mari tunjukan kemurahan hati yang terpancar dari seorang pemimpin yang tidak ada dendam sedikitpun. Syukurilah kemenangan itu dengan merangkul semua kandidat yang belum terpilih untuk memikirkan secara bersama-sama untuk sebuah tujuan yang agung bagi masa depan Aceh.
Sedangkan bagi yang belum terpilih, tetaplah bersabar, karena saudara sedang di uji oleh Tuhan untuk mengoreksi diri dari kekalahan sekaligus untuk persiapan pada pilkada yang akan datang dengan peluang yang masih terbuka lebar. Yakinlah kekalahan bukanlah hal yang perlu di tangisi apalagi saling mencurigai, tapi bagaimana kekalahan ini menjadi pelajaran yang berharga bagi kita untuk membuktikan sejauhmana kesabaran kita di hadapan Tuhan.
Kekalahan juga jangan dimaknai dengan kerugian dan aib besar, tapi kekalahan harus membuat kita untuk instropeksi diri tentang kelemahan kita selama ini.
Kita harus yakin bahwa kekalahan bukan akhir dari sebuah petualangan dan perjuangan, tapi kekalahan awal dari sebuah kemenangan yang tertunda. Di sinilah kita dapat mengambil hikmah melalui kekalahan itu sendiri.
Ternyata untuk menjadi pemimpin tidak segampang dan semudah yang kita pikirkan. Menjadi pemimipin tidak cukup mendekatkan diri kepada masyarakat pada masa kampanye atau ketika sudah mencalonkan diri.
Tetapi jauh sebelumnya kita harus bersama dan membela rakyat dari segala kebutuhan dan kesulitan. Setelah itu baru kita dapat mencalonkan diri menjadi pemimpin mereka. Kepada yang menang dan yang kalah mari rapatkan barisan untuk memajukan Aceh yang lebih baik di masa depan. Tapi bila menghalangi kandidat terpilih berarti mengkhianati amanah rakyat. Memang pilkada baru saja usai, semoga tidak ada dusta diantara kita.[]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar